Kamis, 14 Juni 2012


ANALISIS KADAR AIR PADA BELUT SAWAH (Monopterus albus)

Fatmasari Nuarisma/C34100055

Departemen Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Institut Pertanian Bogor

Tanggal: 8 mei 2012

ABSTRAK
Belut merupakan kelas Pisces yang memilik ciri fisik yang sedikit berbeda dengan kelas Pisces lainnya. Bentuk tubuhnya menyerupai ular, yaitu gilig (silindris), tubuh lebih panjang dibandingkan dengan belut yang memiliki lingkar tubuh kecil. Belut termasuk hewan karnivora, memiliki lambung yang besar, palsu, tebal, dan elastis. Analisis proksimat merupakan suatu metode analisis kimia untuk mengidentifikasikan kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan. Metode ini didasarkan pada komposisi susunan kimia dan kegunaan bahan makanan. Analisis proksimat ikan belut sawah yaitu pada kadar air 78,80%, kadar abu 0,65%, kadar lemak 0,58%, dan kadar protein sebesar. Hasil analisis proksimat terbesar terdapat pada kadar air, yaitu sebesar 78,80% dan yang paling mendominasi dalam kandungan proksimat belut. Sedangkan hasil proksimat terbesar kedua yaitu aterdapat pada kadar protein sebesar 15,76%, dihasil ketiga yang terdapat kadar abu sebesar 0,65% dan terkecil yaitu pada kadar lemak sebesar 0,58%. Ikan belut yang dipraktikumkan memiliki rendemen daging sebesar 49.56%, rendemen kulit sebesar 7.21%, rendemen tulang  sebesar 14.58%, rendemen kepala sebesar 9.21% dan rendemen jeroan sebesar 19.44%. Tujuan melakukan praktikum adalah untuk memprediksi suatu bahan termasuk didalamnya analisis kadar air, kadar abu, kadar lemak, dan kadar protein.

Kata kunci: analisis proksimat, belut, kadar air, Monopterus albus, preparasi, rendemen



PENDAHULUAN

            Monopterus albus atau ikan belut sawah merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut dewasa rata-rata hanya sepanjang 50 cm. Lingkar tubuhnya 5-7 cm (Ahmad 2007).
Belut memiliki sifat hermafrodit dimana dapat berganti kelamin selama hidupnya. Belut muda akan selalu betina, dan bila sudah dewasa maka akan berganti kelamin secara otomatis menjadi jantan. Belut secara alami akan memiliki masa kawin selama musim hujan 3 sampai 4 bulan. Hewan ini memakan segala jenis binatang kecil di air, seperti ikan kecil (Azahari 2007).
Habitat belut berada di sekitar sungai, sawah ataupun lahan basah dataran rendah lainnya. Belut (Monopterus albus) mampu hidup dengan tanpa air dalam jangka waktu yang lama (Ibrahim 2002). Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa atau lumpur dan di kali-kali kecil (Erniawati 2010).
Berikut klasifikasi ikan belut (Monopterus albus) menurut Saanin 1984 dalam Ibrahim 2002:
   Kingdom      : Animalia
   Filum            : Chordata
   Kelas            : Pisces
   Ordo             : Synbranchoidea
   Famili           : Synbranchidae
   Genus           : Monopterus
   Spesies         : Monopterus albus
Morfologi belut secara umum memiliki bentuk tubuh panjang dan bulat seperti ular, tapi tidak bersisik dan matanya kecil. Sirip dubur dan sirip punggung berubah menjadi sembulan kulit yang tidak berjari-jari. Sirip perut dan sirip dadanya tidak ada. Bagian badannyalebih [anjang dari bagian ekornya, yang pendek tirus (makin keujung makin kecil). Tinggi badan kurang lebih 1/20 kali panjang tubuhnya. Lengkung insangnya terdiri dari tiga pasang. Bibirnya berupa lipatan kulit yang lebar disekeliling mulutnya. Giginya kecil runcing berbentuk kerucut (Sarwono 1994 dalam Ibrahim 2002).
Menurut data produksi ikan belut (Monopterus albus) bahwa dilihat dari produksinya, ikan belut di Indonesia banyak di budidayakan di kolam. Jumlah produksi perikanan budidaya kolam pada tahun 2010 ikan belut mencapai 106 ton (KKP 2010). Data statistik perikanan provinsi Jawa Barat yang diacu dalam KKP (2011) menunjukkan, produksi belut di kabupaten Bandung pada tahun 2008 sebesar 123.98 ton, dan meningkat menjadi 152.46 ton pada tahun 2009.
Untuk mengetahui komposisi susunan kimia dan kegunaannya suatu bahan pakan maupun pangan dilakukan analisis kimia yang disebut analisis proksimat. Analisis proksimat merupakan suatu metode analisis kimia untuk mengidentifikasikan kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan. Metode ini didasarkan pada komposisi susunan kimia dan kegunaan bahan makanan. Analisis proksimat menganalisis beberapa komponen seperti zat makanan air (bahan kering), bahan anorganik (abu), protein, lemak, dan serat kasar.
Tujuan melakukan analisis uji proksimat pada ikan belut (Monopterus albus) adalah untuk mengetahui komposisi kimia pada suatu bahan.

BAHAN DAN METODE
Waktu dan tempat
            Praktikum Analisis Uji Proksimat Belut (Monopterus albus)  dilaksanakan pada tanggal hari Selasa, 8 Mei 2012 pukul 10.30 WIB sampai 14.00 WIB, di Laboratorium Karakteristik Bahan Baku Hasil Perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada praktikum adalah belut (Monopterus albus), air, garam, dan abu gosok.
Alat yang digunakan adalah pisau, talenan, dan timbangan.
Prosedur Kerja
            Prosedur kerja yang dilakukan dalam menganalisis kadar proksimat belut yaitu diawali dengan memberi perlakuan dengan membuat belut dalam keadaan pingsan kemudian belut ditimbang bobot tubuhnya. Setelah dilakukan penimbangan kemudian bagian kulit belut di fillet. Untuk melakukan fillet pada kulit belut dapat mudah dilakukan yaitu dengan melumuri abu gosok. Jika sudah dilakukan pemfilletan maka bagian kepala dipotong agar mempermudah tahap selanjutnya. Setelah bagian tubuh belut dibuka untuk diambil bagian jeroannya. Kemudian dilakukan penyayatan daging beserta tulang. Setelah semua bagian belut terpisah, dilakukan penimbangan masing-masing yaitu kulit, jeroan, daging, kepala dan tulang belut. Hitung masing-masing hasil rendemen. Berikut diagram alir prosedur kerja analisis proksimat belut:
Belut
 
 
Penimbangan
Pemfilletan kulit
Pemisahan bagian jeroan
Penimbangan masing-masing bagian (Kulit, jeroan, tulang dan kepala, daging)
Penyayatan daging dan tulang
Penimbangan
 
















Gambar 2 Diagram alir prosedur      kerja rendemen

Tahap pertama dalam melakukan analisis kadar air adalah dengan dikeringkannya cawan porselen dalm oven selama 1 jam pada suhu 105 oC. Cawan tersebut diletakkan ke dalam desikator (kurang lebih 15 menit) dan dibiarkan sampai dingin kemudian ditimbang hingga beratnya konstan. Kemudian dimasukkan sampel utnuk dimasukkan kedalam cawan tersebut, kemudian dikeringkan di oven selama 5 jam pada suhu 105 oC atau hingga beratnya konstan. Setelah selesai dikeringkan, cawan tersebut dimasukkan kembali ke dalam desikator untuk didinginkan dan dibiarkan hingga dingin. Kemudian dilakukan penimbangan kembali.
Berikut adalah diagram alir prosedur kerja dalam analisis kadar air.
Pengeringan cawan T 105oC
Pendinginan dalam desikator
 





Penimbangan cawan
Pemberian sampel ke cawan
Pengeringan di oven kembali
Pendinginan kembali
Penimbangan
 












Gambar 2 diagram alir prosedur kerja kadar air

HASIL DAN PEMBAHASAN
Belut (Monopterus albus) merupakan salah satu jenis ikan yang sering ditangkap orang sebagai ikan liar dan sampai saat ini potensinya belum dimanfaatkan secara maksimal. Menurut Yuliati 1996 dalam Dewi 2002 ikan memiliki kandungan mineral sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan daging. Adapun Sarwono 1999 dalam Dewi 2002 menyatakan bahwa kandungan mineral yang terdapat pada belut cukup tinggi seperti fosfor, kalsium, dan besi.
        Belut ikan belut hidupnya dilumpur sehingga bau lumpur akan mempengaruhi produk olahan ikan belut ini. Untuk menghilangkan bau lumpur, maka perut ikan belut harus dikosongkan terlebih dahulu dengan membiarkannya didalam wadah berisi air bersih baik dengan air yang mengalir ataupun tidak mengalir selama satu hari (Peranginangin & Yunizal 1992 dalam Dewi 2002).
        Belut merupakan bahan pangan yang mulai digemari oleh setiap kalangan masyarakat karena rasanya yang gurih dan bernilai gizi tinggi.
        Hasil rendemen pada ikan belut yang dipraktikumkan memiliki rendemen daging sebesar 49.56%, rendemen kulit sebesar 7.21%, rendemen tulang  sebesar 14.58%, rendemen kepala sebesar 9.21% dan rendemen jeroan sebesar 19.44%.
        Untuk mengetahui komposisi susunan kimia dan kegunaannya suatu bahan pakan maupun pangan dilakukan analisis kimia yang disebut analisis proksimat. Analisis proksimat merupakan suatu metode analisis kimia untuk mengidentifikasikan kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan.
        Metode ini didasarkan pada komposisi susunan kimia dan kegunaan bahan makanan. Analisis proksimat menganalisis beberapa komponen seperti zat makanan air (bahan kering), bahan anorganik (abu), protein, lemak, dan serat kasar.
        Berikut merupakan hasil analisis uji proksimat belut pada Tabel 1.
Tabel 1 Analisis proksimat Belut (Monopterus albus)
Analisis proksimat
% kadar Belut
Kadar air
78,80
0,65
0,58
15,76
Kadar abu
Kadar lemak
Kadar Protein
            Tabel 1 menunjukkan bahwa masing-masing analisis proksimat yaitu pada kadar air 78,80%, kadar abu 0,65%, kadar lemak 0,58%, dan kadar protein sebesar 15,76%. Hasil analisis proksimat terbesar terdapat pada kadar air, yaitu sebesar 78,80% dan yang paling mendominasi dalam kandungan proksimat belut. Sedangkan hasil proksimat terbesar kedua yaitu aterdapat pada kadar protein sebesar 15,76%, dihasil ketiga yang terdapat kadar abu sebesar 0,65% dan terkecil yaitu pada kadar lemak sebesar 0,58%.
        Belut yang dimatikan dengan cara dipukul bagian kepalanya akan memiliki keadaan daging yang kenyal daripada dimatikan dengan penambahan konsentrasi garam 3%. Belut dapat dibersihkan dengan melumuri abu gosok ke seluruh permukaan tubuhnya sampai lendir hilang. Abu gosok memilki daya serap tinggi dan bentuknya yang kasar mudah menyerap lendir selama tiga kali pemakaian. Pengkulitan daging belut dapat dilakukan bagi yang ahli. Lain halnya menurut Rusiana 1998 dalam Dewi 2002 menyatakan bahwa pengkulitan sulit dilakukan karena ikatan antara kulit dan daging sangat kuat sehingga apabila ditarik daging pun ikut tertarik.
        Praktikum yang telah dilaksanakan sudah sesuai yaitu dengan menggunakan abu gosok. Abu gosok selain untuk mempermudah pengkulitan juga dapat membersihkan lendir yang terdapat pada ikan belut. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa abu gosok memiliki daya serap yang tinggi dan bentuknya yang kasar mudah menyerap lendir yang ada pada ikan belut.
        Daging belut memiliki warna putih keabu-abuan. Daging ikan yang baik berwarna putih. Ikan merupakan sumber protein hewani yang cukup potensial. Protein ikan berdasarkan kelarutannya dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu protein sarkoplasma, protein fibrillar, dan protein stroma. Protein sarkoplasma memiliki larutan garam yang kadarnya relatif rendah. Protein ini terdiri dari 10-15% dari total protein ikan, sebagian besar protein ini adalah miogen. Protein fibril memiliki karakteristik dapat larut pada larutan garam yang kadarnya tinggi, biasanya terdapat 75-85% dari total protein ikan. selanjutnya adalah protein stroma yaitu protein ini hanya larut pada larutan basa atau asam yang kuat, biasanya terdiri dari 3-6% dari total protein ikan (dewi 2002).
        Salah satu zat gizi ikan adalah lemak. Lemak merupakan bagian integral dari semua bahan. Lemak berperan dalam pembentukan tekstur lembut. Lemak merupaka komponen flavor dan mempengaruhi mouthfeel bahan pangan. Kandungan gizi lainnya yaitu abu dan air. Kandungan abu pada ikan dapat digunakan untuk mengetahui komponen mineraldalam daging seperti kalsium, sodium, dan potasium. Selain itu, ada komponen yang lebih kecil kandungannya seperti besi, tembaga, dan magnesium. Kandungan air sangat berpengaruh terhadap tekstur bahan pangan dimana sebagian besar bahan pangan segar mengandung air 70% atau lebih. Kandungan air ikan umunya berkisar 70-80%. Pada umunya derajat kesegaran ikan bahan pangan mempunyai hubungan dengan air yang dikandunganya. Kadar air juga sangat berpengaruh terhadap daya awet bahan pangan (Dewi 2002).
        Berikut merupakan tabel komposisi atau kandungan yang terdapat pada ikan belut.
Tabel 2 Komposisi zat gizi ikan belut dalam 100 g bahan
Zat Gizi
Kandungan (g)
Air
79,0
Protein
16,7
Lemak
2,3
Abu
1,8
Sumber: Nio 1998 dalam Dewi 2002
       
        Menurut Nuruddin (2007), belut merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak dgemari. Hampir 50% dari kandungan tubuhnya mengandung protein hewani yang sangat baik untuk kesehatan.
        Air merupakan komponen terpenting dalam bahan makanan, karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur serta cita rasa makanan. Kadar air dalam bahan pangan menentukan penerimaan dan daya tahan bahan tersebut (Winarno 1997 dalam Dewi 2002).
Penentuan kadar air dapat dilakukan dengan berbagai cara. Hal ini tergantung dengan sifat bahan yang digunakan. Pada umumnya penentuan kadar air dilakukan dengan mengeringkan bahan (sampel) dalam oven pada suhu 105-110oC) selama 3 jam atau sampai didapat berat yang konstan (Winarno 2004).
Tabel 1 menunjukkan bahwa hasil uji proksimat belut (Monopterus albus) memiliki kadar air yang dihasilkan yaitu sebesar 78,80%. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan air yang tinggi pada ikan belut dapat menyebabkan perantara adanya tumbuh kembang bakteri sehingga memungkinkan cepat terjadinya pembusukan pada belut. Oleh karena itu pentingnya higienitas dan sanitasi dalam penangangan belut tersebut. Sehingga menghasilkan belut yang tetap terjaga komposisi kandungan gizinya dengan baik.
SIMPULAN DAN SARAN
            Praktikum hasil analisis uji proksimat ikan belut sawah (Monopterus albus) yaitu pada kadar terbesar adalah kadar air sebesar 78,80%. Kadar proksimat terbesar kedua yaitu kadar abu 0,65%, kadar lemak 0,58%, dan kadar protein sebesar. Hasil analisis proksimat terbesar terdapat pada kadar air, yaitu sebesar 78,80% dan yang paling mendominasi dalam kandungan proksimat belut. Sedangkan hasil proksimat terbesar kedua yaitu aterdapat pada kadar protein sebesar 15,76%, dihasil ketiga yang terdapat kadar abu sebesar 0,65% dan terkecil yaitu pada kadar lemak sebesar 0,58%.
            Perlu adanya peningkatan variasi dari jenis-jenis ikan yang akan di uji kadar proksimatnya. Agar dapat memiliki pengetahuan informasi yang lebih terhadap kandungan gizi pada setiap jenis ikan baik ikan air tawar dan ikan air laut.

DAFTAR PUSTAKA
[KKP] Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2011. [terhubung berkala]. www.kkp.go.id. [12 Mei 2012].
Azahari H. 2007. Pengolahan dan kelayakan usaha abon ikan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari 8 (3) : 74-80. Jambi: Universitas Batanghari Jambi.
Ibrahim I. 2002. Studi pembuatan kamaboko ikan belut (Monopterus albus) dengan berbagai suhu perebusan dan konsentrasi tepung terigu [skripsi]. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Nio OK. 1998. Daftar Analisis Bahan Makanan. Jakarta: Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.
Nuruddin 2007. Belut: Dari Lumur Masuk dapur dalam Trobos, Bumi Memanas Peternakan Waswas. No 98 November 2007 Tahun VIII. PT. Galur Prima Cobb Indonesia, Jakarta.
Peranginangin & Yunizal. 1992. Pengalengan Belut. Dalam F. Cholik (Ed.), Kumpulan Hasil-hasil Penelitian Perikaan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Jakarta.
Rusiana. 1988. Pembuatan Dendeng Gepuk Belut dan Daya Terima Konsumen [skripsi]. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Saanin H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan I. Jakarta: Binacipta.
Santi YM. 2009. Analisis usaha agroindustri keripik belut sawah (Monopterus albus) di Kabupaten Klaten [skripsi]. Surakarta: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian,Universitas Sebelas Maret.
Sarwono. 1999. Budidaya Belut dan Sidat. Jakarta: Penebar Swadaya.
Winarno FG. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
                                . 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Yuliati LN. 1996. Penyelenggaraan Makanan. Diktat yang tidak dipublikasikan. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.



           





Analisis Komponen Bioaktif Genjer



ANALISIS KOMPONEN BIOAKTIF PADA GENJER (Limnocharis flava)

Fatmasari Nuarisma/C34100055

Departemen Teknologi Hasil Perairan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

22 Mei 2012

ABSTRAK
Genjer (Limnocharis flava) tumbuhan darat liar sama seperti kangkung, semanggi dan bopong yang termasuk pada jenis yang sama, tapi genjer hanya akan tumbuh subur di lahan yang banyak tergenang air. Ekstraksi adalah istilah yang digunakan untuk operasi yang melibatkan perpindahan suatu konstituen padat atau cair (solute) ke dalam cairan lain yaitu solvent atau pelarut. Metode ekstraksi yang digunakan adalah ekstraksi tunggal dengan pelarut etanol. Fitokimia adalah ilmu yang mempelajari berbagai senyawa organik yang dibentuk dan disimpan oleh tumbuhan.  Uji fitokimia tanaman genjer (Limnocharis flava) memiliki senyawa aktif yang menunjukkan hasil positif yaitu steroid, fenol hidrokuinon, dan benedict. Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui komponen bioaktif yang terdapat pada tanaman genjer. Hasil praktikum menunjukkan genjer memiliki senyawa aktif steroid, fenol hidrokuinon, dan Benedict.

Kata kunci: ekstraksi, fitokimia, genjer, Limnocharis flava


PENDAHULUAN
Genjer (Limnocharis flava) merupakan tumbuhan darat liar sama seperti kangkung, semanggi dan bopong yang termasuk pada jenis yang sama, tapi genjer hanya akan tumbuh subur di lahan yang banyak tergenang air. Tumbuh di lembah sungai, genjer juga mudah ditemui pada lapisan tanah gembur dan lapisan lumpur yang tergenang air dangkal. Selain itu lahan persawahan yang digenangi air setelah masa panen atau disela tanaman padi yang masih muda (Maria 2001). Tanaman genjer yang sering disebut sebagai tanaman terna ini berasal dari daerah tropis Amerika, tetapi terdapat juga tumbuh liar di daerah panas lain.
Pemanfaatan tanaman genjer sering dijadikan sebagai bahan masakan untuk sayuran, seperti pada daunnya. Pada bunga genjer muda juga enak dijadikan masakan. Genjer cocok diolah menjadi tumisan, lalap, pecel, campuran gado-gado atau dibuat sayur bobor. Biasanya tanaman genjer (Limnocharis flava) ditemukan bersama-sama dengan eceng gondok.
Berikut adalah klasifikasi tanaman genjer menurut plantamor.com (2008) adalah:
Kingdom          : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Liliopsida
Ordo                : Alismatales
Famili              Limnocharitaceae 
Genus              Limnocharis
Spesies
            Limnocharis  flava
Genjer merupakan tumbuhan rawa yang berakar dalam tanah, bergetah dan menghasilkan tanaman baru dengan membengkokkan tangkai bunga kemudian terbentuk akar pada ujungnya. Tanaman ini berumur lebih dari satu tahun atau karena pengeringan periodik tempat tumbuhnya berumur satu tahun, tumbuh luas merumpun. Secara morfologi, tanaman genjer memiliki panjang daun 7,5 – 27 cm, berwarna hijau muda, bentuk bulat telur dengan tangkai daun yang panjang, tebal, bersisi tiga dan sisi belakang ujung daun berpori air dengan tepi warna keunguan. Bunga genjer majemuk dengan berbentuk payung, agak lunak, tebal dengan tungkai bungai yang panjang (Nisma dan Arman 2008).
Tanaman genjer (Limocharis flava) merupakan tanaman yang mempunyai daun yang termasuk kategori daun lengkap. Daun genjer mempunyai ketiga bagian-bagian daun itu. Jadi berdasarkan kelengkapan daun, tanaman genjer ini termasuk pada daun lengkap. Pada tanaman ini tidak ditemukan daun tambahan, dan jumlah helaian daun tanaman ini termasuk pada kategori daun tunggal (folium simplex) (Nisma dan Arman 2008).
        Berdasarkan susunan tulang daun, tanaman genjer memiliki tulang daun yang melengkung yaitu daun yang susunan tulang daunnya melengkung. Bagian daun terlebar pada genjer terletak pada bagian tengah helaian daun. Ujung distal helai daun (apex) meruncing (acuminatus). Tunggal, roset akar, bertangkai persegi, lunak, panjang 15-25 cm, helai daun lonjong, ujung meruncing pangkal tumpul, tepj rata, panjang 5-50 cm, lebar 4 25 cm, pertulangan sejajar, hijau. Berdasarkan sifat batang genjer termasuk pada batang basah (herba), karena batang ini biasanya mengandung air, tidak berkayu dan berwarna hijau. Batang tanaman genjer berbentuk bundar (globosus).         Arah batang di atas tanah genjer memiliki batang yang tegak (erectus) dengan berarah tegak lurus ke atas. Apabila dilihat tanaman ini mempunyai akar serabut. Akar lembaga dari tanaman ini dalam perkembangan selanjutnya mati atau kemudian disusul oleh sejumlah akar yang kurang lebih sama besar dan semuanya keluar dari pangkal batang. Akar-akar ini karena bukan berasal dari calon akar yang asli yang dinamakan akar liar, bentuknya seperti serabut, oleh karena itu dinamakan akar serabut (radix adventicia). Morfologi genjer dapat dilihat pada Gambar 1 (Lampiran 1).
        Pemanfaatan tanaman genjer (Limnocharis flava) dilakukan terhadap daun muda dengan petiole dan buah yang belum terbuka yang dimakan sebagai sayuran, di Indonesia terutama di Jawa Barat, Malaysia, dan Thailand. Tanaman ini biasanya tidak dimakan mentah tetapi dipanaskan di atas api atau dimasak untuk waktu yang singkat. Pengolahan genjer sebagai penambah nafsu makan adalah dengan pengukusan genjer segar hingga setengah matang yang dikonsumsi sebagai lalapan. Daun dan bunga genjer berkhasiat sebagai penambah nafsu makan. Daun dan bunga genjer banyakmengandungkardenolin,flavonoid, dan polifenol. Selain disayur, genjer juga digunakan sebagai pakan makanan ternak, batang genjer dicacah menjadi bagian kecil-kecil, kemudian dicampur dengan bekatul atau dedak.
        Praktikum Uji Fitokimia Genjer (Limnocharis flava) bertujuan untuk mengetahui komponen bioaktif yang terdapat pada tanaman genjer.

BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
        Praktikum Uji Fitokimia genjer (Limnocharis flava) dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 22 Mei 2012, pukul 10.30 sampai dengan 13.30 WIB.      Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Karakteristik Bahan Baku Hasil Perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Bahan dan Alat.
        Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah etanol 95%, Anhidra asetat, serbuk Magnesium, Amil alkohol, alkohol, etanol 70%, pereaksi Molisch, pereaksi Benedict, pereaksi Biuret, Ninhidrin, pereaksi Dragendorff, pereaksi Meyer, dan  pereaksi Wagner.
        Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah Erlenmeyer 250 ml, gelas ukur, pisau, talenan, alumunium foil, timbangan, kapas, orbital shaker, rotary vacuum evaporator, tabung reaksi, pipet tetes, pipet volumetrik, dan sudip.
Prosedur Kerja
Ekstraksi dilakukan dengan menghancurkan sampel sebanyak   25 gram kemudian dimaserasi dengan dengan pelarut kloroform sebanyak 100 ml selama 48 jam dengan diberi goyangan menggunakan orbital shaker dengan kecepatan 8 rpm. Hasil maserasi yang berupa larutan kemudian disaring dengan kertas saring Whatman 42 sehingga diperoleh filtrat dan residu. Setiap residu di maserasi dengan pelarut dan filtratnya dievaporasi menggunakan rotary vacuum evaporator pada suhu 50 oC. Ekstrak yang diperoleh kemudian digunakan untuk untuk uji fitokimia. Diagram alir uji fitokimia genjer dapat dilihat pada Gambar 2.
Uji fitokimia meliputi uji alkaloid, uji steroid, flavonoid, saponin, fenol hidrokuinon, Molisch, Benedict, Ninhidrin, dan Biuret. Uji alkaloid dilakukan dengan melarutkan 2 ml sampel dalam beberapa tetes asam sulfat 2 N kemudian diuji dengan pereaksi Dragendorff, Wagner, dan Meyer.
        Uji Steroid dilakukan dengan melarutkan 2 ml sampel dalam        3-4 tetes kloroform, lalu ditambahkan 10 tetes anhidra asetat dan 3  tetes asam sulfat pekat.
        Uji flavonoid dilakukan dengan menambahkan 2 ml sampel dan serbuk magnesium, amil alkohol serta alkohol. Uji saponin dilakukan dengan mendeteksi busa dalam air panas.
        Uji fenol hidrokuinon dilakukan dengan melarutkan 2 ml sampel dengan etanol 70% kemudian ditambahkan 2 tetes larutan FeCl3 5%.
        Uji Molisch dilakukan dengan melarutkan 2 ml sampel dalam pereaksi Molisch sampai terbentuk warna ungu.
        Uji Benedict dilakukan dengan melarutkan 2 ml sampel dalam pelarut Benedict, dididihkan selama 5 menit. Uji Biuret dilakukan dengan melarutkan 2 ml sampel dalam pereaksi Biuret sampai berwarna ungu.
Oval: Genjer segar        Uji Ninhidrin dilakukan dengan melarutkan sampel dalam beberapa tetes larutan Ninhidrin 0.10%, kemudian dipanaskan sampai terbentuk warna biru.



 




 










Gambar 2 Diagram alir prosedur kerja ekstraksi genjer (Limnocharis flava)

HASIL DAN PEMBAHASAN
            Uji fitokimia atau kadang disebut fitonutrien merupakan segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan termasuk sayuran dan buah-buahan. Fitokimia ini biasanya digunakan untuk merujuk pada pada senyawa yang ditemukan pada tumbuhan yang tidak dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh, tetapi memiliki efek yang menguntungkan bagi kesehatan atau memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit. Komponen-komponen aktif yang terdapat dalam senyawa fitokimia adalah alkaloid, flavonoid, steroid, saponin, fenol hidrokuinon, tannin dan  polifenol (Sovia 2006).
Berikut merupakan hasil uji fitokimia pada tanaman genjer (Limnocharis flava) pada Tabel 1.
Tabel 1 Hasil uji fitokimia Limnocharis flava.
Uji
Hasil
Warna
-/+
Awal
Akhir
Alkaloid



Dragendorff
-
Hijau tua
Jingga tanpa endapan
Meyer
-
Kuning kehijauan
Kuning bening
Wagner
-
Hijau tua
Coklat tanpa endapan
Steroid
+
Hijau tua
Hijau tua pekat
Flavonoid
-
Hijau tua
Hijau tua
Saponin
-
Hijau tua
Tak berbusa
Molisch
-
Hijau tua
Hijau tua
Benedict
+
Hijau tua
Endapan merah bata
Fenol hidrokuinon
+
Hijau kekuningan
Hijau tua
Ninhidrin
-
Hijau tua
Hijau tua
Biuret
-
Hijau tua
Hijau tua





           
Tabel 1 menunjukkan bahwa hasil uji fitokimia yang menghasilkan nilai positif yaitu ada pada uji steroid, benedict dan fenol hidrokuinon. Pada uji steroid warna yang dihasilkan yaitu hijau tua pekat, benedict berwarna merah bata, dan pada fenol hidrokuinon berwarna hijau tua. Hasil ini berbeda dengan apa yang dikatakan Nisma dan Arman (2008) bahwa genjer mempunyai kandungan kardenolin, flavonoid, dan polifenol. Hasil ini berbeda karena kebanyakan senyawa aktif dalam tumbuhandikelompokkan ke dalam golongan metabolit sekunder, yaitu senyawa yang disintesis oleh tumbuhan bukan untuk kebutuhan tumbuh dan berkembang, melainkan untuk mempertahankan eksistensi dan keberlanjutan spesiesnya dalam berinteraksi dengan ekosistem.
            Maisuthisakul et al. (2005) meneliti mengenai aktivitas anti radikal, kadar flavonoid dan total fenol. Menurut penelitiannya bahwa kadar fenol pada daun genjer yaitu 5,4 mg GAE/g db, flavonoid sebesar 3,7  mg GAE/g db, dan aktivitas anti radikal sebesar 0,1 l/EC50.
Uji alkaloid merupakan metabolit basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid adalah senyawa kimia tanaman hasil metabolit sekunder yang terbentuk berdasarkan prinsip pembentukan campuran. Alkaloid biasanya tanpa warna, seringkali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal dan hanya sedikit yang berbentuk cairan pada suhu kamar, contohnya pada nikotina.
Senyawa-senyawa golongan alkaloid misalnya caffeine, theobromine dan theophylline (Sirait 2007). Kelompok senyawa alkaloid terdiri dari alkaloid sesungguhnya, protoalkaloid dan pseudoalkaloid. Alkaloid sesungguhnya adalah racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas fisiologi yang luas, hampir tanpa terkecuali bersifat basa, mengandung nitrogen dalam cincin heterosiklis, diturunkan dari asam amino, dan biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam asam organik. Protoalkaloid merupakan amin yang relatif sederhana, nitrogen asam amino tidak terdapat cincin heterosiklis, dan diperoleh berdasarkan biosintesis dari asam amino yang bersifat basa. Pseudoalkaloid tidak diturunkan dari prekursor asam amino dan biasanya senyawa ini bersifat basa (Sastrohamidjojo 1996 dalam Sudirman 2011).
Uji flavonoid merupakan kelompok besar fitokimia yang bersifat melindungi dan banyak terdapat pada buah dan sayuran. Flavonoid sering dikenal sebagai bioflavonoid yang berperan sebagai antioksidan. Antioksidan dapat menetralkan atau menginaktifkan reaksi yang tidak stabil pada molekul
yang disebut sebagai radikal bebas yang dapat menyerang sel tubuh. Flavonoid terdapat beberapa jenis dan masing-masing berperan dalam menjaga kesehatan. Senyawa-senyawa flavonoid termasuk di dalamnya adalah resveratrol, anthocyanin, quercetin, hesperidin, tangeritin, kaemferol, myricetin dan apigenin.
Flavonoid telah ditemukan pada jeruk, kiwi, apel, anggur merah, brokoli dan teh hijau. Flavonoid adalah bagian dari senyawa fenolik yang terdapat pada pigmen tumbuh-tumbuhan. Kesehatan manusia sangat tergantung pada flavonoid sebagai antioksidan untuk mencegah kanker. Manfaat utama flavonoid adalah untuk melindungi struktur sel, membantu memaksimalkan manfaat vitamin C, mencegah keropos tulang, sebagai antibiotik dan anti-inflamasi (Winarsi 2007 dalam Sudirman 2011).
Flavonoid juga dapat berperan dalam pencegahan dan pengobatan penyakit umum lainnya, yaitu periodontitis, wasir (ambeien), encok, rematik, diabetes melitus, katarak dan asma. Istilah flavonoida diberikan untuk senyawasenyawa fenol yang berasal dari kata flavon yaitu nama dari salah satu flavonoida yang terbesar  jumlahnya dalam tumbuhan (Harborne 1987 dalam Sudirman 2011).
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam satuan isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari  hidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualena. Senyawa ini berstruktur siklik yang rumit, kebanyakan berupa alkohol, aldehid atau asam karboksilat. Sterol atau steroid adalah triterpenoid yang kerangka dasarnya cincin siklopentana perhidrofenantren. Senyawa sterol pada tumbuhan disebut dengan fitosterol, yang umum terdapat pada tumbuhan tinggi adalah sitosterol, stigmasterol dan kampesterol. Senyawa ini dapat diklasifikasikan menjadi steroid dengan atom karbon lebih dari 21, yaitu sterol, sapogenin, glikosida jantung dan vitamin D. Senyawa ini dapat digunakan dalam pembuatan obat (Harborne 1987 dalam Sudirman 2011).
Saponin atau glikosida sapogenin adalah salah satu tipe glikosida yang tersebar luas dalam tanaman. Tiap saponin terdiri dari sapogenin yang merupakan molekul aglikon dan sebuah gula. Saponin merupakan senyawa yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah, sering digunakan sebagai deterjen. Saponin dapat digunakan untuk meningkatkan diuretika serta merangsang kerja ginjal. Saponin dapat menyebabkan iritasi pada selaput lendir, bersifat toksik pada binatang berdarah dingin yaitu ikan (Harborne 1987 dalam Sudirman 2011).
Senyawa fenolik meliputi bermacam senyawa yang memiliki ciri, yaitu berupa senyawa aromatis. Beberapa senyawa yang termasuk dalam golongan fenolik, antara lain fenol sederhana, lignin, antrakuinon, flavonoid, tanin dan fenil propanoid. Fenol sederhana memiliki kelarutan yang terbatas dalam air dan bersifat asam.
Kuinon adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar, yaitu kromofor pada benzokuinon, yang terdiri atas dua gugus karbonil yang berkonjugasi dengan dua ikatan rangkap karbon-karbon. Dalam identifikasi umumnya kuninon dibagi menjadi empat kelompok, yaitu benzokuinon, naftokuinon, antrakuinon dan kuinon isoprenoid. Tiga kelompok pertama
biasanya terhidrolisasi dan bersifat senyawa fenol (Harbone 1987 dalam Sudirman 2011).
            Dalam pengobatan, metabolit sekunder lebih diminati daripada metabolit primer karena telah terbukti mampu mengobati (mempunyai efek farmakologi), di samping itu metabolit primer lebih susah dipelajari karena tidak stabil dan memerlukan peralatan yang canggih. Kualitas senyawa bioaktif dalam tumbuhan hidup ditentukan oleh faktor internal yaitu genetik dan umur tanaman, serta dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti iklim, kondisi geografis, hama dan penyakit, dan sebagainya. Selain itu waktu panen penanganan pasca panen juga dapat berpengaruh terhadap kualitas simplisia.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh tanaman antara lain suhu, cahaya, curah hujan dan ketersediaan air, ketinggia di atas permukaan laut, iklim, angin, keadaan tanah, kandungan nutrisi termasuk kandungan mineral, jamur, dan bakteri, keberadaan serangga, adanya hewan herbivora, kerapatan tanaman, kompetisi dengan tanaman lain (Ubbe 2005 dalam Febrianti 2010). Asam amino bebas adalah asam amino dimana gugus aminonya tidak terikat. Pada praktikum di atas, genjer membentuk warna hijau tua karena tidak dapat bereaksi dengan Ninhidrin. Hal ini menandakan genjer pada uji tersebut tidak mempunyai gugus asam amino bebas. 
Genjer pada praktikum ini tidak ditemkan adanya kandungan karbohidrat karena tidak terbentuknya cincin ungu pada kedua batas cairan dan warna yang terbentuk hijau tua. Fenol hidrokuinon pada genjer aktif karena tanaman genjer memiliki kandungan alkohol (Maisuthisakul et al. 2008). Genjer memiliki kandungan gula pereduksi karena warna yang ditimbulkan terbentuk endapan merah.
Genjer pada praktikum ini tidak memiliki kandungan saponin karena tidak ditemukan adanya busa dalam suatu reaksi uji tersebut. Kandungan flavonoid pada genjer bersifat negatif, namun seharusnya pada tanaman genjer mengandung flavonoid, hal ini disebabkan oleh perbedaan pada jenis tanaman yang digunakan, juga faktor internal lainnya seperti umur tanaman, habitat atau lingkungan yang ditempatinya.
Uji steroid pada tanaman genjer bersifat positif. Hal ini menandakan bahwa tanaman genjer memiliki kandungan steroid. Alkaloid pada genjer bersifat negatif karena setelah dilakukan campuran zat dengan ketiga pereaksi yaitu pereaksi Dragendorff, Meyer, dan Wagner menunjukkan hasil yang negatif.

KESIMPULAN DAN SARAN
            Uji fitokimia tanaman genjer (Limnocharis flava) memiliki senyawa aktif yang menunjukkan hasil positif yaitu steroid, fenol hidrokuinon, dan benedict. Sedangkan senyawa lainnya tidak aktif pada tanaman genjer. Genjer tidak memiliki kandungan saponin, alkaloid, molisch, ninhidrin, dan  biuret.
            Praktikum analisis uji fitokimia pada tanaman genjer seharusnya lebih di variasikan dan dibandingkan dengan tanaman air lainnya agar memperoleh suatu informasi yang lebih pasti. Perlu dilakukannya percobaan lebih lanjut agar mengetahui jelas kandungan bahan aktif pada tanaman genjer yang bisa dimanfaatkan.

DAFTAR PUSTAKA
Febrianti F.2010. Kandungan Total Fenol, Komponen Bioaktif, dan Aktivitas Antioksidan Buah Pedada (Sonerattia caseolaris). [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan   Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia.    Edisi ke-2. Padmawinata K,  Soediro I, penerjemah. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Terjemahan dari: Phytochemical Methods.
Lenny Sovia. 2006. Senyawa Flavonoida, Fenil Propanoida, Alkaloida. USU Repository.
Maisuthisakul P., Suttajit M., Pongsawatmanit R. 2005. Assessment of phenolic content and free radical-scavenging capacity of some Thai indigenous plants. Journal of Food Chemistry 100 (2007): 1409-1418.
Maria L. Efisiensi genjer, kangkung air, dan selada air dalam menurunkan konsentrasi logam besi (Fe) di dalam medium air tawar [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Nisma F dan Arman B. 2008. Seleksi beberapa tumbuhan air sebagai penyerap logam berat Cd, Pb, dan Cu di kolam buatan FMIPA UHAMKA. [penelitian]. Jakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.
Rini. 2009. Perbandingan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Simpur (Dillenia indica) dari Berbagai Metode Ekstraksi dengan Uji Anova [makalah]. Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Sastrohamidjojo H. 1996. Sintesis Bahan Alam Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sirait M. 2007. Penuntun Fitokimia dalam Farmasi. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Sudirman S. 2011. Aktivitas antioksidan dan komponen bioaktif kangkung air (Ipomoea aquatica Forsk.) [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
Ubbe, Umar. 2005. Diktat Kimia Bahan Makanan. Makassar: Fakultas Matematika dan ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin.
Winarno FG. 2008. Kimia Pangan     dan Gizi. Jakarta: Gramedia.
[Plantamor.com] klasifikasi     genjer. 2008.   www.plantamor.com. [22 Mei2012].













































LAMPIRAN
Lampiran 1 Tanaman genjer (Limnocharis flava)
Sumber: Navida (2008)

Lampiran 2 Hasil uji fotokimia genjer (Limnocharis flava)